Rabu, 01 Juli 2015

Esensi Nikmatnya Mereguk Ilmu Pengetahuan


Juara Kedua
Oleh : Halima (Sastra Inggris)
Warisan sejati yang dinamakan “peradaban Islam” eksis di satu tempat dan hanya di
satu tempat: yaitu Qur’an. Kelebihan seorang yang berilmu terhadap ahli ibadah adalah
seperti bulan purnama terhadap seluruh bintang-bintang di langit (Hadist Rasulullah
SAW)”. Pernah ada suatu masa ketika kaum intelektual muslim berjaya dan membawa begitu banyak pencerahan kepada dunia. Peradaban Islam yang agung pasca-wafatnya Nabi Muhammad SAW mencapai puncaknya pada Kekhalifahan Abbasiyah yang bahkan pernah disinggung banyak ahli Barat termasuk Henry S. Lucas, sebagai periode yang paling makmur
dalam sejarah umat manusia hingga saat itu”, telah melahirkan banyak pemimpin besar seperti Harun Al-Rasyid (763-809), Al-Ma’mun (786-833) yang mampu menggabungkan antara tradisi ilmu pengetahuan dan keluhuran moral yang kesemuanya berlandaskan AlQuran. Dari beberapa pemimpin yang terbaik pernah dimiliki umat Islam tersebut, lantas intelektual besar muslim bermunculan seperti Al-Khawarizmi (penemu Aljabar atau Algebra dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan melalui bukunya Hisab Al-Jabr wa Al-Muqabala); AlKindi (tokoh awal yang memopulerkan ide-ide Aristoteles dan Plato); Ibn Sina/Avicenna (Bapak Ilmu Kedokteran Modern yang bukunya Al-Qanun Al-Tibb dipakai selama 700 tahun di Eropa zaman pertengahan); Al-Battani (850-923 M) sebagai orang pertama yang berhasil menghitung panjang satu tahun matahari yakni 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik; ataupun sederet nama besar ilmuwan muslim lainnya yang turut memberikan wawasan besar bagi khazanah ilmu pengetahuan dunia pada masa waktu itu. Jadi apa esensi jika dikaitkan dalam konte kuks nasional atu ke-Indonesiaan? Tentu sangat esensi. Bangsa Indonesia adalah salah satu populasi ,uslim yang terbanyak di dunia. Sungguh sangat memiliki tanggung jawab besar sekali secara tidak langsung. Oleh karena itu, sangat penting di perlukan kepemimpinan Islami yang kuat, tidak hanya secara tata bahasa dan alangkah baiknya lebih baik perbuatannya yang lebih diutamakan. Perbuatan seorang pemimpin Islam adalah seseorang yang mampu mengetahui apa isi-isi Al-Qur’an ke dalam tindakan nyata yaitu melalui penguasaan ilmu pengetahuan. Karena Al-Qur’an adalah buku ilmu yang sangat lengkap. Di dalamnya banyak memberikan yang besar apa pentingnya ‘ilm (ilmu). Bahkan ayat yang pertama kali diturunkan berbunyi Iqra’ bismirabbika (Bacalah, dengan nama Tuhanmu). Keutamaan menguasai ilmu ini sebenarnya banyak dibahas melalui Hadis Rasulullah SAW seperti belajarlah sampai ke negeri Cina, tinta seorang sarjana lebih suci daripada
syuhada”, “mencari pengetahuan wajib hukumnya bagi seorang Muslim”, , ataupun “saat
seorang alim bersandar di tempat tidur untuk memperdalam ilmunya adalah lebih baik
daripada ibadah seorang hamba, selama enam puluh tahun”. Bahwasannya ini menunjukkan Islam sangat menjunjung tinggi dan menghargai ilmu pengetahuan, yang dalam sejarahnya mampu membawa Islam berjaya di masa terdahulu. Akan tetapi, hal ini yang sangat dilupakan umat muslim sebagai pemeluk agama mayoritas di Indonesia. Kepemimpinan nasional saat inibenar-benar nyaris meniadakan keutamaan ilmu pengetahuan, mengingat dengan materi dan kekuasaan yang sangat dinomorsatukan. Sebuah penghormatan terhadap ilmu pengetahuan sudah dijelaskan pula oleh filsuf muslim, Ibn Rusyd, yang memperkenalkan teori The Double Truth Doctrine yakni dua kebenaran yang tak terpisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan atau sains. Keduanya dapat berjalan beriringan dan tidak dapat dipisahkan. Hal tersebut sekaligus menjelaskan mengapa banyak fenomena alam, sains, dan pengetahuan yang sejatinya sudah dijelaskan secara kupas tuntas oleh Al-Qur’an. Dalam essay ini, urgensi pemimpin yang mampu memadukan keduanya sangat diperlukan untuk membawa Indonesia ke tempat yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Apalagi pemimpin yang menjalankan negara dengan nilai-nilai Qur’ani dan memberikan perhatian yang besar kepada pengembangan ilmu pengetahuan. Pepatah bijak mengatakan
tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Akhir kata, essay di atas tidak bermaksud untuk membangkitkan romantisme sejarah Islam masa lalu yang amat megah, meskipun itu sebuah realitas sejarah yang benar-benar terjadi. Namun, di balik sejarah kita selalu dapat memetik sebuah pelajaran yang amat berharga sekali. Diharapkan umat Islam di Indonesia dapat berintrospeksi serta menyadari potensinya untuk kembali menjadi umat berkualitas di tengah-tengah lemahnya pengetahuan dan kemerosotan moral (perilaku) ini. Bangsa Indonesia sangat dan amat rindu akan nikmatnya menguasai ilmu pengetahuan dan di saat yang sama rindu kembali kepada nilai-nilai Ilahi yang ada dalam Al-Qur’an. Ya, barangkali itulah esensi nikmatnya mereguk ilmu pengetahuan.

0 comments:

Posting Komentar